Kasus Pendaftaran Merek – bag. 2 (tamat)

merek mahal.jpg

Merek termahal di Indonesia , Photo Source : http://www.dream.co.id

Pada tulisan pertama tentang pendaftaran merek saya yang ditolak, baca disini ya , berikut saya menulis tentang langkah apa yang saya ambil mengenai kasus tersebut.

Setelah menghubungi beberapa agen pendaftaran merek, dan browsing  internet tentang kasus yang saya hadapi, akhirnya saya bertemu dengan Hosana Paten, yang beralamat di Plaza Segi Delapan Blok D/871 – Jl. Raya Darmo Permai III Surabaya, telponnya 031-7340854

Melalui telpon saya mencoba mengkonsultasikan apa yang saya alami, dan mereka meminta untuk mengirimkan surat yang saya terima dari Ditjen KUMHAM. Setelah mereka mempelajari isinya, Ibu Emy kalau saya gak lupa, manajer Hosana Paten menjelaskan bahwa proses pendaftaran merek itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Mulai dari proses screening nama merek yang akan didaftarkan melalui agen merek maupun sendiri, kemudian pengajuan pendaftaran merek ke departemen terkait, menunggu proses pengesahan, bahkan setelah terdaftar itu tidak serta merta langsung jadi begitu saja.

Ada proses menunggu yang tidak sebentar hingga merek benar-benar terdaftar. Bahkan menurut Ibu Emy ada yang sampai prosesnya 10 tahun. Nah saran beliau beli saja merek yang sudah jadi, karena ternyata ada juga jasa jual beli merek terdaftar. Biasanya merek yang seperti ini, adalah merek yang sudah tidak diperpanjang lagi oleh pemiliknya atau bisa juga dari pihak agen yang membuat merek terebut.

Mengenai kasus saya, saran dari Bu Emy kalau memang mau bikin surat sanggahan ke kementrian KUMHAM itu bisa saja dilakukan, tapi prosesnya akan njelimet juga. Lalu beliau menanyakan, selama ini bagaimana saya menggunakan mereknya? apakah produk yang saya produksi terjual di pasar Indonesia dan sudah dikenal banyak orang?

Saya jelaskan pada bu Emy, selama ini saya tidak produksi masal, dan produk yang saya jual kebanyakan masuk pasar asing, dan itupun saya tidak menggunakan label saya. Rata-rata buyer saya melakukan re-brand untuk produk yang mereka beli. Saya hanya menggunakan merek saya sebagai “nama dagang” agar dikenal secara online maupun offline.

Saran dari bu Emy, pada dasarnya setiap orang boleh menggunakan merek mereka, meskipun tidak didaftarkan, bahkan tetap boleh menggunakan merek yang saya punya meski mendapat surat penolakan pendaftaran merek dari kementrian KUMHAM, dikarenakan ada kesamaan nama dengan merek lain.

Bu Emy menegaskan, selama tidak ada yang komplain dengan merek yang kita punya, masih sah-sah saja kita menggunakan merek tersebut, kecuali anda menggunakan merek yang sudah terdaftar, seperti Teh Botol Sosro, Telkomsel, Nike untuk menamai produk anda dan dijual bebas. Ini yang salah paparnya!

Kasus serupa juga pernah terjadi di Surabaya, sebuah warung bakso yang sudah lama ada di Surabaya, Bakso Kepala Sapi, kemudian masuk bakso sistem franchise dari Bandung yang mereknya sama persis dengan bakso kepala sapi di Surabaya.

Dua-duanya tetap jalan, meski awalnya juga bingung, ini mana yang bakso kepala sapi asli mana yang palsu. Tapi pasarlah yang akhirnya menentukan. Bakso kepala sapi asli dari Surabaya yang mampu bertahan hingga kini di Surabaya. Sedangkan yang franchise dari Bandung akhirnya gulung tikar meski mereknya terdaftar, karena mungkin kurang pas dengan lidah orang jawa timur.

Jadi jika anda punya merek belum terdaftar, jangan khawatir! tetaplah berdagang dan jika memang dirasa perlu untuk mendaftarkan, silahkan daftarkan merek anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s