Suka Duka Bisnis Kuliner

6

Kentang Ulir

Awal 2013 adalah tahun pertama saya menjadi “fully entrepreneur”, saya memutuskan berhenti kerja dari perusahaan export-import di Surabaya, dan “NEKAD” melompat dari zona kiri menuju zona kanan.

Keputusan ini juga dipengaruhi oleh “provokasi” dari kelas-kelas motivasi bisnis yang pernah saya ikuti. Waktu itu, gaung untuk menjadi “pengusaha” sangat menggema, seolah menjadi “karyawan” adalah hal yang “haram”.

Padahal tidak semua orang memiliki garis hidup yang sama seperti orang lain, tidak semua orang bisa menjadi pengusaha, dan tidak semua orang bisa duduk nyaman menjadi karyawan.

So saran saya .. jika anda menikmati menjadi pengusaha, maka jadilah pengusaha yang handal, tapi jika memang anda lebih menikmati menjadi karyawan, maka bekerjalah dengan sebaik-baiknya, lalu berinvestasilah!

84

Kenangan Bisnis Kuliner di Surabaya

Well .. menerjuni dunia bisnis sebenarnya bukan hal baru, saya dilahirkan dari keluarga pedagang, ayah dan ibu bahkan kakek nenek saya bergelut di dunia bisnis sejak lama. Tentunya jiwa dagang ini sudah mendarah daging dalam diri saya.

Bisnis kecil-kecilan yang pernah saya punya pertama kali, memang bergerak di dunia Fashion, kemudian pengaruh kelas motivator membuat saya “kemaruk” untuk mencoba bisnis baru, karena ketika itu “trend wisata kuliner” dan “Food Franchise” sedang booming di Indonesia.

85

Gerai Kentang Goreng

Akhirnya saya memberanikan diri, untuk membuat konsep usaha makanan ringan gerobak. Makanan yang saya pilih adalah kentang goreng. Ide ini saya peroleh ketika jalan-jalan ke Malaysia tahun 2012.

Saya melihat ada kentang twist yang digoreng kering, ditusuk dengan bambu, lalu diberi saus mayonaise dan sambal tomat. Ketika itu, jenis makanan ini belum ada di Indonesia. Kemudian baru booming di Bandung sekitar pertengahan 2013.

Mengawali bisnis kuliner ini, saya bekerjasama dengan seorang teman yang bertindak sebagai “investor utama”. Kami bersepakat menggunakan sistem bagi hasil cara Islam. Kawan saya tidak ikut campur dalam hal operasional, dia terima beres saja, termasuk siap rugi!

91

Gerai Kentang Goreng Potatoes Hacker

Awalnya saya menyewa tempat dekat rumah kos saya di Surabaya, yang kebetulan berada di area sekitar kampus ternama di Surabaya. Target pasar produk ini adalah kalangan mahasiswa dan anak-anak yang suka jajan.

1

Mahasiswa yang mampir di gerai kami

Berbekal ilmu pengolahan pangan, yang saya dapat dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian – Universitas Jember, saya memulai bisnis kuliner ini dengan mencoba mengaplikasikan teori pengolahan pangan, mulai dari pemilihan bahan baku sampai kemasan.

Alhamdulillah usaha berjalan dengan baik, saya mempekerjakan satu karyawan, khusus untuk menjaga stand. Selain jualan kentang goreng, saya juga menjual es teh. Paduan dua produk ini menjadi andalan stand saya.

dscn2339

Kentang Goreng Ulir Potatoes Hacker

Setelah satu bulan berjalan, ada tawaran dari seseorang yang kebetulan lewat, untuk ikut pameran di salah satu mall selama 1 minggu. Lagi-lagi karena “kemaruk” saya-pun mengiyakan ikut pameran, dengan biaya pendaftaran 2 juta untuk 1 booth.

Senang bisa ikut pameran, karena omset meningkat dan saya juga bisa sekaligus jualan “baju mimamia” di booth pameran. Tapi sedihnya .. pemilik tempat sewa lapak di sekitaran kampus itu, mulai berulah.

dscn2335

Usaha Gerobak Kentang Goreng di Surabaya

Dia mulai menaikkan biaya sewa, memberi aturan yang lebih ribet, dan menambah orang yang menyewa di halamannya, sehingga ruang gerak gerobak saya semakin sempit. Saya-pun berusaha mencari alternatif tempat baru.

Ternyata mencari tempat jualan tidaklah mudah, apalagi modal kami sangat terbatas, biaya operasional di Surabaya cukup tinggi untuk kelas usaha kami. Sempat mendatangi beberapa area sekitar komplek SMA di Surabaya, tapi tidak ada tempat kosong, apalagi anda tidak punya koneksi, maka semakin susah memperoleh lapak.

88

Event Photography di Booth Potatoes Hacker

Kemudian ada sebuah taman di tengah kota, yang sangat ramai dengan anak-anak muda setiap malamnya. Disebelahnya ada rumah makan Padang (ownernya keturunan Tionghwa), yang menyewakan halamannya untuk pedagang makanan ringan.

Biaya sewanya sangat tinggi, tapi mau tidak mau usaha harus tetap berjalan, akhirnya teman saya ini mau menambahkan suntikan modalnya lagi. Lalu dari rekomendasi teman lain, saya dikenalkan pada seorang ibu rumah tanga yang juga ingin berinvestasi.

2

Mahasiswi yang mampir di Booth Potatoes Hacker Surabaya

Awalnya saya takut, karena mengurus satu booth saja rumitnya minta ampun, tapi lagi-lagi provokasi motivator yang terus mengiang-ngiang di kepala, bahwa “buka cabang” sebanyak-banyaknya adalah bentuk “marketing” sebuah produk agar lebih cepat dikenal konsumen.

Booth ke-dua, kami sewa di Mall. Saya survey beberapa mall di Surabaya, harganya semakin mencekik leher, biaya operasional pun semakin tinggi, lalu berbekal “NEKAD LAGI” saya memutuskan untuk mendaftar menjadi salah satu tenant di salah satu mall di Selatan Surabaya.

87

Curly Fries

Untuk meningkatkan omset penjualan, kami menambah beberapa menu untuk menarik minat pembeli. Kami mulai menjual kentang olahan semacam “French Fries”, sosis goreng, dan kopi.

Usaha kuliner ini berjalan kurang lebih 6 bulan, permasalahan omset versus biaya operasional menjadi momok, yang semakin hari semakin menguras permodalan. Akhirnya kita harus pindah tempat lagi, karena omset tidak mampu membayar biaya sewa.

Tips dari seorang pedagang burger di Mall, dia menyarankan jika pertama kali buka usaha kuliner, baiknya mulai dari yang kecil-kecil dulu, jangan langsung masuk ke Mall. Perempuan ini adalah keturunan Tionghwa yang memiliki beberapa gerai burger di beberapa tempat.

86

Gerai di Salah Satu Mall

Menurutnya lagi, biaya operasional gerainya di Mall itu, masih dibantu oleh pendapatan dari gerai-gerai kecilnya yang lain. Dia rela menjaga sendiri gerai tersebut setiap hari, untuk mengurangi biaya operasional

Menjadi pengusaha kuliner, tidaklah semudah yang kita bayangkan. Jualan laris manis, pelanggan yang menyemut setiap harinya, dan produk dikenal masyarakat bukanlah hal yang instant, semuanya butuh proses. Tekun, sabar dan kerja keras adalah kunci utama.

86

Gerai di Salah Satu Mall

Akhirnya kami memutuskan menutup usaha kuliner ini, karena semakin hari semakin menurun, dan merugi. Tapi bukan berarti bisnis kuliner tidak menjanjikan ya! Setiap orang punya “hoki” nya masing-masing. Ada yang “jodoh” dengan bidang usaha kuliner, fashion, elektronika, jasa kecantikan dan sebagainya.

Yang perlu dicatat disini, ketika anda memutuskan untuk terjun di dunia usaha :

  1. Niatkan semua kegiatan anda karena mencari Ridho Allah
  2. Siapkan diri dengan resiko merugi dulu!
  3. Mantabkan hati untuk memulai usaha dengan niatan yang benar
  4. Jika anda mempunyai usaha yang baru jalan, jangan “tergiur” untuk membuka jenis usaha lainnya
  5. Fokus pada usaha yang sedang anda kembangkan
  6. Siap berproses, bahwa kesuksesan itu TIDAK BISA INSTANT.
  7. Pelajari dengan baik usaha yang akan anda bangun secara detail dan rinci
  8. Menjadi pengusaha harus berpikiran positif dan inovatif
  9. Menjalankan bisnis merupakan “sekolah” yang berkelanjutan, karena setiap hari selalu ada hal baru yang perlu kita pelajari
  10. Sabar, Tekun, Ulet, Pantang Menyerah, Kerja Keras, adalah kata-kata yang wajib ada dalam kamus pikiran anda!

Nah .. usaha apa yang akan anda pilih ?

DSCN2348.JPG

Deep Frying Fries

Advertisements

9 thoughts on “Suka Duka Bisnis Kuliner

  1. Mantap ya Mba’ pengalaman wirausahanya, saya juga dulu buka usaha jualan baju kecil-kecilan, tapi karena sibuk sama si kecil, jadi berhenti dulu. Moga suatu saat bisa usaha lagi. Sukses Mba’.. 🙂

    Like

    • jangan takut mbak Dewi 🙂 setiap usaha pasti ada resikonya, yang penting kita mau sabar dan terus belajar, dan lakukan dengan suka cita, apalagi kalo memang hobby masak, akan lebih mudah menjalankan bisnis kuliner 🙂 ..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s