Perlukah Idealisme dalam Bisnis ?

IMG-20160916-WA0004

Food Truck di Pasar Amsterdam

Bisnis dan Entrepreneurship adalah salah satu cabang ilmu yang tak pernah habis untuk dipelajari. Setiap hari adalah belajar, setiap hari bertemu tantangan baru, dan setiap hari adalah titik nol menuju puncak titik kurva dalam grafik kesuksesan.

Menjalankan bisnis tidak semata untuk mencari keuntungan, tapi juga menjadi “ladang amal” bagi pemiliknya untuk kesejahteraan lingkungan sosial disekitarnya. Trend “Responsible Business” yang sedang berkembang tersebut dikenal dengan istilah “philantrhopist” 

Philantrhopist adalah orang-orang yang menggunakan “kepandaian otaknya” untuk mencari uang dan membagikan hasilnya  (kekayaannya) dengan hati tulus bagi kesejahteraan orang lain, contohnya Bill Gates, Mark Zuckerberg di USAAzim Premji di India, dan masih banyak lagi contoh baik lainnya yang menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk kesejahteraan dunia melalui Foundation yang mereka dirikan.

Jika anda seorang muslim, idealisme Good Corporate Behaviour sudah dicontohkan sejak zaman Rasulullah, baik oleh Nabi Muhammad s.a.w beserta istrinya Siti Khadijah juga oleh para sahabat-sahabatnya, seperti Utsman bin Affan, Thalhah ‘ibn Ubaydillah, Abdurahman bin Auf yang mendermakan kekayaannya untuk kemajuan Islam pada zamannya.

20151119_114518

Desain Interior sebuah Cafe di Surabaya

Nah .. kali ini saya akan menulis tentang bentuk “idealisme” lain, yang sepertinya tidak mudah untuk disatukan dengan tujuan bisnis itu sendiri (profit oriented). Berdasarkan pengalaman saya, menyatukan “idealisme” dan “business goal” pada satu garis lurus, bukanlah pekerjaan mudah, boleh dikatakan Pe-eR (pekerjaan rumah) paling sulit dalam ilmu bisnis.

Dalam kasus yang pernah saya alami, bentuk idealisme yang pernah saya terapkan adalah berkaitan dengan kualitas produk, pangsa pasar, dan biaya produksi. Ketika itu, saya bergerak dalam bisnis makanan ringan – kentang goreng -, awalnya saya menjual kentang ulir (twisted potatoes) yang sedang booming kala itu.

Kemudian melebar menjual french fries yang terbuat dari kentang asli, bukan tela-tela ya! Nah idealisme saya, sebagai seorang yang pernah belajar di kampus Teknologi Pangan, tentunya memberikan produk yang sehat, kualitas produk nomor satu, pengolahan pangan yang benar serta hygienic dan tentunya dengan harga terjangkau!

Pertama buka usaha, kami berjualan di emperan sekitar kampus, lalu memperoleh kesempatan untuk menjajal pangsa pasar di salah satu pusat perbelanjaan kawasan Surabaya Selatan. Target kami saat itu adalah menjadi salah satu produk competitor kentang goreng dari waralaba yang sudah punya nama.

Lagi-lagi “idealisme” dibenturkan “profit oriented” maka yang terjadi adalah kegagalan. Ketika idealisme “memberikan produk berkualitas dengan harga terjangkau”, namun melawan faktor “production cost” yang tidak mungkin kita pungkiri, adalah kebodohan absurd yang pernah saya lakukan he he he .. Yaap itulah hasil dari “motivator otak kanan” yang tidak diimbangi oleh otak kiri! Sukses  membuka bisnis menuju jurang kegagalan..!

16

Proses Produksi di Workshop MIMAMIA

Untuk menghasilkan sebuah produk yang kualitasnya setara dengan brand terkenal, membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi jika produk yang kita jual masih terhitung skala kecil, tentunya menjaring “profit” menjadi lebih sulit diperoleh. Walhasil tingginya biaya produksi tidak mampu mengimbangi “idealisme” yang saya lakukan.

Meski gagal, dan hanya bertahan hingga 6 bulan, tapi saya tidak pernah menyesal, karena apa yang saya alami adalah “guru termahal” yang pernah saya temui dalam proses belajar tanpa henti, tentang dunia bisnis dan entrepreneurship.

Idealisme lain yang pernah saya terapkan dalam bisnis saya adalah “meng-orangkan karyawan” dengan membayar gaji mereka melebihi standard rata-rata di kota asal saya Bondowoso, khususnya di bidang garment dan konveksi.

Sungguh menjadi seorang entrepreneur itu HARUS multitalenta! meski bukan “pakar” dalam semua bidang, tapi anda HARUS tahu – minimal sedikit–  seluk beluk yang berkaitan dengan bisnis anda.

Anda harus paham “sosio-demography” dan “sosio-culture” tempat anda menjalankan usaha. Memahami karakter orang-orang disekitar yang berkaitan dengan bisnis anda, serta memiliki leadership skill yang bagus, akan sangat menunjang kemajuan usaha anda.

Kadang memang dilema ketika berhadapan dengan karyawan, ketika terlalu disanjung, maka mereka akan kurang ajar, dan jika kita keras, mereka-pun akan hengkang dari perusahaan. Untuk itu, alangkah baiknya kita mempelajari “psikologi industri” dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan.

104_bukalapak_view_mimamia

Lapak Hijab Online Kami

Lagi-lagi .. masalah karyawan juga menjadi “momok” yang sering dihadapi oleh perusahaan, mereka menginginkan kesejahteraan, tapi kinerja mereka tidak berbanding lurus bahkan kadang dibawah standar yang diharapkan perusahaan. Tentunya ini akan memebani biaya produksi, dan sangat berpengaruh pada nilai jual produk.

Memang tidak mudah untuk menuju sukses, sebagai seorang entrepreneur, kita harus sering-sering “mengosongkan gelas” untuk menambah ilmu baru, serta terbuka terhadap perubahan yang begitu cepat, khususnya di era digital seperti sekarang, kita harus terus up to date dan up grade isi kepala kita.

86

Salah Satu Gerai Kentang Goreng Kami di Surabaya – 2012

Namun terlepas dari hal-hal diatas, satu yang tidak boleh terlewatkan, adalah selalu berkomunikasi dengan Tuhan, memohon petunjuk dan bimbingan ilmu-Nya bagaimana menjalankan bisnis yang baik dan barokah. Usahakan.. SELALU menyertakan Allah dalam setiap keputusan maupun langkah yang akan anda lakukan!

Di akhir tulisan ini, dapat saya simpulkan bahwa idealisme dalam bisnis juga perlu, agar kita punya tujuan jelas dan terarah menuju Good Corporate Behaviour, Tapi .. perlu saya garis bawahi bahkan bold line .. menerapkan idealisme dalam bisnis harus tepat dan presisi, harus tahu kapan dan dimana “idealisme” ditempatkan.

Saya yakin, orang sekelas Mark Zuckerberg maupun Warren Buffet juga tidak akan mempertaruhkan idealisme mereka pada taraf  “business management maupun production area“, atau kalau mereka menerapkan hal itu, mungkin akan menjadi ilmu baru bagi saya, bagaimana mengkombinasikan antara idealisme dan profit oriented.

Bagi anda yang baru memulai usaha .. jangan takut gagal ya 🙂 semoga apa yang saya tulis ini, bisa sedikit membantu menambah pengetahuan anda khususnya dalam dunia usaha ..! Selamat Berjuang dan salam sukses dunia akhirat

 

Advertisements

9 thoughts on “Perlukah Idealisme dalam Bisnis ?

  1. Mbaakk, makasih bnyak loh mbk sdh mau share pengalaman kecenya, yg berarti ilmu bwt aku.
    Aku jg lg bljr bisnis nih mbk, dan ternyata bisnis itu syusaaahh. Tapi ttp semangat pantang menyerah, doain aku bs ngikutin kesuksesanmu ya mbk 🙂

    Like

  2. Salut ama para entrepreneur :). Papaku jg usaha di bidang bakery mba. Dari jatuh bangun pas awal pensiun , sampe usahanya udh berkembang jd beberapa cabang. Berkali2 papa minta aku nerusin, tp jujurnya aku takut. Takut gagal, takut malah nanti jd ga berkembang.. Makanya sampe skr aku ga pengen resign dr kerjaan kantor yg lbh menjamin.. Itu yg bikin aku salut ama semua pengusaha yg berani menjalankan strateginya, idealismenya tanpa melupakan profit jg. Papapun slalu nekanin ke kita utk jujur kalo jd pengusaha.. Berikan yg terbaik dan nasehat2 begitulah.. Tp kdg menjalankan blm tentu sama dengan teorinya 🙂

    Like

    • terima kasih mbak Fanny atas apresiasinya 🙂 memang benar menjalankan bisnis tidak semudah yang dibayangkan, tapi bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan .. salam untuk papanya ya mbak, duh mau dong belajar dari beliau 🙂

      Like

  3. Kak, ada post tentang cerita awal mulanya bisnis nggak kak? Kenapa milih bisnis kentang, gimana sampai akhirnya nekat terjun? Klo ada tolong bagi bagi link kak, mau baca.. terimakasih banyak 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s